njajal_admob_di_blog

Pages

Saturday, April 4, 2015

Waktu Shalat [Delphi 7]

Software untuk mencari waktu shalat sudah banyak, termasuk yang dirilis Depag RI (winhisab). Pernah googling buat nyari source-code menghitung waktu shalat untuk di"tempel" di aplikasi yang selama ini saya buat, ternyata yang ditulis pake Delphi gak ketemu. Trus googling algotima hitungan waktu shalat dan dari sekian banyak algoritma (VSOP87 dan ELP2000 (pergerakan bulan), Meous) menurut saya yang paling praktis itu seperti yang ditulis di googlecode ini. Mengapa praktis? algoritma yang lain masih belom sukses ketika saya tulis di Delphi (mungkin kurang teliti di penulisan tanda kurung di persamaan matematisnya :) ). Dan yang 1 ini sudah pantas buat saya "pamer"kan kepada pembaca (yang mau aja lho).

Buat yang ini menggunakan code saya ini, silahkan ... tentunya dengan tanggung-jawab sepenuhnya ada pada anda sendiri, iya to. . . Kan gak mungkin saya bisa nanggung kalo ada kerugian yang mungkin terjadi dari s/w buatan saya ini to ya . . . he he he

to-do : saya pengin melengkapi dengan semua algoritma untuk pembandingan hasil,jadi tunggu release yang lebih lanjutnya (semoga gak berhenti disini, amin)

ini potongan code-nya

<pre><code>
uses math;

var h,tz,sh  :integer;
    B,L,gd,gn:real;
    subuh,terbit,zuhur,ashar,maghrib,isya:real;

procedure hitung(tgl:TDateTime);
var D,T,R,beta,Z,U,Vd,Vn,W : extended;
    j : integer;

    function YearOf(const AValue: TDateTime): Word;
    var LMonth, LDay: Word;
    begin
         DecodeDate(AValue, Result, LMonth, LDay);
    end;

begin
     j :=Trunc(tgl-EncodeDate(YearOf(tgl),1,1)); //= DayOfTheYear(tgl);
     beta:=2*pi*J/365;
     D :=(180/pi)*(0.006918-(0.399912*cos(beta))+(0.070257*sin(beta))-(0.006758*cos(2*beta))+(0.000907*sin(2*beta))-(0.002697*cos(3*beta))+(0.001480*sin(3*beta)));
     T :=229.18*(0.000075+(0.001868*cos(beta))-(0.032077*sin(beta))-(0.014615*cos(2*beta))-(0.040849*sin(2*beta)));
     R :=15*TZ;
     Z :=12+((R-L)/15)-(T/60);
     U :=(180/(15*pi))*arccos((sin((-0.8333-0.0347*sign(H)*sqrt(abs(H)))*(pi/180))-sin(D*(pi/180))*sin(B*(pi/180)))/(cos(D*(pi/180))*cos(B*(pi/180))));
     Vd:=(180/(15*pi))*arccos((-sin(Gd*(pi/180))-sin(D*(pi/180))*sin(B*(pi/180)))/(cos(D*(pi/180))*cos(B*(pi/180))));
     Vn:=(180/(15*pi))*arccos((-sin(Gn*(pi/180))-sin(D*(pi/180))*sin(B*(pi/180)))/(cos(D*(pi/180))*cos(B*(pi/180))));
     W :=(180/(15*pi))*arccos((sin(arctan(1/(Sh+tan(abs(B-D)*pi/180))))-sin(D*pi/180)*sin(B*pi/180))/(cos(D*pi/180)*cos(B*pi/180)));

     subuh  :=Z-Vd;
     terbit :=Z-U;
     zuhur  :=Z;
     ashar  :=Z+W;
     maghrib:=Z+U;
     isya   :=Z+Vn;
end;
</code></pre>


langsung aja, ini link donlot-nya

[update link 2 juli 2017 via mediafire]


Sunday, September 21, 2014

Placenta Previa

Tulisan ini tidak akan membahas apa itu placenta previa, namun kelahiran anak ke-2 kami yang caessar karna placenta previa ini

---


Dua anak cukup... laki-laki perempuan sama saja... itulah jargon Keluarga Berencana.
Setelah punya gubug sendiri untuk menetap, bahkan di usia anak pertama yang sudah 8 tahun, maka keinginan untuk memiliki anak kedua menguat. Istri-pun melepas kontrasepsi IUD yang sudah 8 tahun ngendon di badannya dan 3 bulan kemudian hamilah anak kedua.

Semua berjalan seperti biasa hingga usia kehamilan 33 minggu. Senin pagi 25 Agustus 2014 bercak darah segar ditemukan istri ketika bangun tidur (nge-flek). Hari itu juga, mbolos kerja dan periksa ke RS (swasta) terdekat. Hasilnya, dokter bilang Plcanta Previa, kondisi dimana ari-ari (placenta) menutup jalan keluar bayi. Bayi tidak mungkin dilahirkan dengan jalan normal, dan harus operasi sesar (caesar), sesegera mungkin karena janin sudah seberat 3,05 kg (ala USG).
Untuk memperkuat argumentasi, dicari 2nd oppinion dari rumah sakit lain, dan hasilnya sama. Hanya rekomendasinya sedikit berbeda: tunggu selama mungkin mendekati HPL, atau keluar flek lagi. Jika flek darah muncul, maka sesegera mungkin dioperasi sesar.

Ternyata, tepat seminggu sejak flek pertama yakni Senin 1 September 2014, bukan hanya flek darah yang ditemukan istri, namun dari pagi hingga siang darah segar tidak mau berhenti. Setelah muter-muter mencari rujukan dari Puskesmas (yang ternyata tidak digunakan L), senin sore jam 17.00 ke rumah sakit terdekat untuk periksa lagi. Hasilnya: janin sudah 3,1 kg dan harus sesar, esok hari (Selasa, 2 September 2014) selepas waktu Ashar.

Selanjutnya, selasa 2 September, jam 10.30an berangkat ke RS tersebut, setelah mendaftar dan sebagainya, menunggu di kamar bangsal. Datang pemberitahuan bahwa operasi akan dilaksanakan jam 22.00an malam itu, karena menunggu kesiapan dokter “lain” (anestesi).
Jam 22.10, istri masuk ke ruang operasi, dan jam 22.38 terdengar tangis bayi dari ruang tersebut... dari luar kami bersyukur... Alhamdulillaahhh . . . Pintu ruang operasi dibuka, dan salah satu perawat berlari kesana kesini mengambil beberapa peralatan medis, yang dalam hati kami menilai : kok kurang persiapan ya . . . .
Jam 23.00an istri keluar dari ruang operasi dan kembali ke bangsal, namun adek bayi masih menunggu di dalam ruang operasi... Tidak dapat menunggu adek bayi keluar dari ruang operasi karena sudah sedemikian ngantuk, akhirnya tertidur... dan keesokan harinya (Rabu 3 September 2014) bayi mungkil kami sudah berada di ruang inkubator bayi. Informasi dari perawat :
1.      berat bayi 2,2 kg, panjang 43 cm (BBLR, padahal USG terakhir menyebutkan 3,1 kg)
2.      nafas cekung
hal kedua diatas (nafas cekung) menyebabkan bayi harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih mampu, dipilihlah RSUD Sleman.
Jam 11.45 sampai di UGD RSUD Sleman, dan harus mendaftar ke bagian UGD. Kemudian menunggu bayi untuk ditangani lebih lanjut. Dari UGD, bayi di bawa ke bangsal bayi untuk mendapat penanganan khusus. Beruntung, tak lama kemudian ada dokter spesialis yang berkeliling memeriksa. Beberapa dokter muda dari UGM mengerumuni dokter spesialis dan menyampaikan kondisi bayi kami. Hhmmmm.... hanya dari laporan tersebut, tanpa melihat bayi, sang dokter menuliskan apa yang harus dilakukan, bahkan perawat nampak seperti sudah hafal dan menambahkan apa lagi yang kurang dari dokter, dan di iyakan oleh dokter tersebut... Berarti kondisi bayi seperti ini sudah sering ditemui hingga semua hafal dan tahu apa yang harus dilakukan. Setelah dokter keluar, barulah ada perawat yang menemui dan menyampaikan hal apa saja yang akan dilakukan beserta resiko yang mungkin muncul... karenanya persetujuan dari keluarga pasin diperlukan dalam bentuk tanda tangan. No problem. Semua langsung di tanda tangani saja....
Jam 12.15 semua selesai, masih ada waktu untuk ke kantor Jamkesda Sleman (sekitar 10 km) yang biasanya memakan waktu 30 menit karna jam macet. Mampir dahulu ke studio poto untuk mencetak poto dan foto-copy beberapa berkas, Jam 12.45 sampai di kantor Jamkesda Sleman. Setelah semua selesai, kembali lagi ke RSUD dan jam 13.20 ke kantor Jamkesda di RSUD untuk mendapat persetujuan. Tidak perlu antri lama (dibanding asuransi kesehatan milik pemerintah lain) persetujuan didapat dan berkas disampaikan ke bangsal bayi.
Capek, bingung, lapar. Mencari Masjid, sholat Duhur, dan kembali bingung... Di lantai teras bangsal, langsung ndlosor saja dan tidur hingga terbangunkan 1 jam kemudian, oleh aktifitas cleaning-service RSUD mulai bersh-2 sore hari lagi. Terbangun, menuju ruang perawat bangsal dan tanya beberapa hal... jawabnya : perkembangan baru ada di hari ke-4 setelah perawatan, dan bayi harus ada yang nenunggu... Malam hari, setelah SMS-an dengan istri di RS lain, hanya bisa tidur di kursi tunggu teras bangsal yang dingin, hingga Subuh.

Kamis, 4 September 2014, pagi hingga sore tidak ada kegiatan, kecuali melihat bayi di inkubator pada jam 10.00 s/d jam 12.00, dan tentu saja rasa harap-2 cemas. Juga jam bezoek sore (jam 16.00 s/d 18.00). Namun setelah sholat Maghrib, perawat meminta untuk menyiapkan ASI dan mengatakan bahwa kult bayi pucat, dan Hb (hemoglobin) rendah, 9,6 dari 15. Bagi dewasa, Hb bisa ditambah dengan minum juice jambu, namun untuk bayi (usia 2 hari) hanya bisa lewat transfusi, dan hanya dari darah segar (bukan darah yang didonor-kan kemarin). Beruntung golongan darah-nya sama dengan Bapak-nya dan dokter menunda transfusi esok harinya karena dianggap bukan mendesak dan perlu pengawasan “lebih”.

Jum’at, 5 September 2014 setelah mendapat pengantar dari bangsal bayi, menunggu di Bank Darah Laboratorium RSUD, dan petugas membuka pintu di jam 6.30. Ternyata, pengambilan darah hanya bisa dilakukan di PMI... hhmmmm.... Berangkat lah ke PMI dengan harapan bisa donor (setelah kurang tidur)... Alhamdulillaahh, Hb cukup dan darah bisa di ambil, dan “proses” selanjutnya memakan waktu 3 jam karna proses manual (kalau proses otomatis darah hanya menjadi 1 bag, padahal diinginkan 3 bag). Daripada menunggu, mendingan ke RS tempat istri di rawat dan sekaligus meminta ASI. Sampai di RS, istri dinyatakan sudah boleh pulang. Tentu senang, namun bagaimana pulangnya? Akhirnya harus megambil mobil ke rumah saudara, sementara istri menunggu di RS sambil memeras ASI, dan saudara lain yang menungu istri mengurus administrasi kepulangan. Biayanya? Total Rp. 6.627.000,- namun semua gratis dengan jaminan Jamkesda. Selesai menjemput dan memulangkan istri, sudah hampir jam 11.00 padahal darah di PMI dijanjikan jam 11.00. akhirnya langsung menghantar mobil pulang sekaligus mengambil motor dan kembali ke PMI. Jam 11.30 sampai di PMI, tanda tangan pengambilan darah dengan nota Rp. 1.080.000 untuk 3 bag... hufff . . . beruntung dapat di”tebus” lagi dengan lembaran merah/jingga dari Jamkesda. Langsung ke RSUD, menitipkan 2 bag darah ke Bank Darah di Laboratorium RSUD, dan membawa 1 bag sisanya ke bangsal. Karena semua sudah cukup, istirahat sejenak dan menunggu sholat Jum’at. Selesai Jum’at, kembali harus mengambil ASI untuk jam 19.00 malam nanti . . . Pulang kerumah, mandi, makan, dan lain-2. Keluarga mertua datang selepas Magrib, dan sejenak kemudian tetangga kiri-kanan pada “ngaruhke” (kebiasaan di desa, kalo ada yang pulang dari RS, tetangga selalu pada berkunjung manakala tidak sempat berkunjung ke RS). Setelah ASI siap, jam 19.00an langsung ke RSUD. Perawat mengatakan ASI cukup hingga jam 05.00 pagi!!! . . . langsung SMS istri untuk menyiapkan ASI jam tersebut.

Sabtu 6 September 2014, selepas Subuh, langsung pulang dan mengambil ASI. Dirumah tak lupa sarapan seadanya. Kembali ke RSUD, perawat mengatakan ASI cukup hingga jam 11.00.... yyaa.. SMS istri lagi untuk nyiapkan ASI jam tersebut... balasan istri, OK ASI akan dihantar ke RSUD oleh adik-nya. Lumayan lega lah... jam 11.15 ASI datang, dan perawat mengatakan cukup sampai jam 17.00... SMS istri lagi... balasannya, sore itu akan ke RSUD bersama keluarga... belom sampai jam 17.00, perawat sudah meminta ASI (sudah habis, dan bayi kami menangis) saya jawab bahwa keluarga sedang dalam perjalanan ke RS, perawat malah menyarankan langsung “netek”i bayi aja... hhmm... seneng banget denger ini...
Jam 17.15an, istri (dan keluarga) sampai di RSUD dan istri langsung ke bangsal dan mulai menyusui bayi kami untuk pertama kali. Cukup lama, 30 menit kemudian azan Magrib dan belom selesai menyusui. Selesai sholat Magrib, istri sudah diluar bangsal dan menunggu sejenak untuk memeras ASI untuk malam tersebut. ASI tersedia, namun sebelum pulang, kembali istri menyusui bayi kami. Perawat mengijinkan pulang namun harus menyediakan ASI untuk jam 07.00.pagi.... (istri belom berani tinggal di RSUD karna luka operasi sessar belom membaik dan belom ada ruang tunggu untuk tidur ibu menyusui).

Minggu 7 September 2014, selepas Subuh kembali pulang mengambil ASI. Sampai di rumah, mandi, sarapan, dan siap-siap. Ternyata istri memilih untuk ikut ke RSUD dan menyusui bayi kami. Jam 08.00 sampai di RSUD dan langsung ke bangsal. Tentu sudah di tunggu perawat untuk langsung menyusui. Selesai menyusui, menyusun rencana selanjutnya: istri siap tinggal di RSUD dengan ditemani (istri belom bisa berjalan dengan normal). Siang hari, istri saya ajak jalan-jalan orientasi sekitar RSUD. Dan sore hari, memeras ASI untuk persiapan pulang mengambil peralatan menginap lain. Setelah cukup, menunggu waktu menyusui dan kemudian pulang. Namun kami harus kembali jam 01.00 untuk menyusui bayi. Sesampai di rumah, saya coba beristirahat, namun tidak bisa. Setelah jam 23.00, kami bersiap kembali ke RSUD dan sampai di RSUD jam 01.00... ternyata ASI sudah habis sejak jam 21.00. Selesai menyusui, istri harus tidur di teras bangsal dengan sleeping bag (yang selama ini saya pakai). Hari itu, dari pagi hingga sore rasanya saya dapat cukup tenang.

Senin 8 September 2014, setelah menghantar istri membeli sarapan dan menyiapkan kebutuhan lain (terutama air mineral) saya pamit pulang untuk mencoba ke tempat kerja. Jam 10.00 sampai di tempat kerja, dan langsung tidur di dapur. Bangun di waktu Zuhur, ternyata sudah ada 2 SMS istri yang masuk. Ke kantor dulu menyelsaikan sedikit pekerjaan yang selama ini tidak ada yang bisa menghandle, selesai dan pulang. Sampai di rumah, menyiapkan pesanan istri, dan berangkatlah ke RSUD. Selanjutnya, saya hanya mengobrol dengan sesama penunggu pasien sementara istri yang mengurus bayi kami. Malam itu, istri sudah mendapat tempat tidur di dalam ruang yang disesiakan bagi ibu yang menyusui.

Selasa, 9 September 2014, bagi saya semua berjalan seperti biasa. Setelah mendapat hasil Laboratorium, infus bayi di lepas dan makanan hanya mengandalkan ASI. Ini tentu berita bagus bagi perkembangan bayi. Namun hasil Lab yang lain, bilirubin cukup tinggi, sehingga bayi harus di sinar Ultra Violet. Ini dilakukan 2 x 12 jam. Menunggu persetujuan dokter, penyinaran dilakukan hari Selasa (jam 11.00 s/d 23.00) dan Rabu (jam 07.00 s/d 19.00). Selama penyinaran, ASI diberikan lewat pipet sehingga kembali harus di peras. Sekali pemberian ASI saat ini adalah 30cc sehingga cukup kewalahan juga saat itu karna ASI belom begitu lancar, dan pemberian ASI maksimal 2 jam, atau kalau bayi menangis (sebelum 2 jam).

Kamis 11 September 2014, semua sudah dilalui. Namun hari itu tidak ada informasi baru karena tidak ada kunjungan dokter. Hanya informasi kalau berat bayi turun menjadi 1,9 Kg. Perawat mengatakan kalau ingin pulang, berat bayi harus pada angka minimal bayi lahir (2,5 Kg) atau 3 hari berturut-turut tidak turun.

Jum’at, 12 September 2014 kembali tidak ada kunjungan dokter. Ternyata dokter mengikuti pelatihan 3 hari di RSUP dr. Sardjito hingga Sabtu. Saya pamit pulang karna istri siap menunggu. Sampai dirumah, menjemput anak sulung dari sekolah. Ta lama kemudian ada SMS dari istri: dokter datang dan sudah boleh pulang. Hura.... tentu gembira.... SMS balasan berbunyi: OK, habis Jum’at kita jemput. Selesai sholat Jum’at langsung bersiap menjemput. Sebelum berangkat, di kamar disiapkan lampu belajar dengan bohlam 5 watt untuk pemanas. Sesampai di RSUD, langsung fotocopy ini-itu, ngurus ke bagian sana-sini, dan selesailah semua. Berpamitan kepada perawat, “tetangga” tempat menginap istri, dan pulang. Sampai di rumah jam 14.30, kondisi bayi nampak begitu lemah, tanpa tenaga.

Sabtu, 13 September 2014 selepas Ashar, untuk pertama kali saya lihat bayi kecil kami menggelengkan kepala ke kini-kanan untuk mencari ASI. Bagi saya, ini sudah merupakan perkembangan karna nampak bayi kecil kami sekarang sudah cukup memilik tenaga untuk hal tersebut.

Senin 15 September 2014, kontrol ke RSUD dan dokter menyatakan bayi sehat, Alhamdulillaah. Pesannya, jangan kena angin, jangan boleh di sentuh “sembarang” tangan. Timbangan bayi menunjukkan angka 2,2 Kg. Wow juga tentunya ...

Kamis 18 September 2014, pertama kalinya bayi ditimbang di Posyandu, dan menunjukkan angka 2,7 Kg.
Selanjutnya, hingga kini Alhamdulillaah semua berjalan dengan cukup baik. Perkembangan bayi dan kepulihan istri cukup bagus. Namun mertua menyarankan untuk tidak terburu-buru mengadakan aqiqah hingga bayi bener-bener sehat, selain juga harga kambing memang sedang mahal (menjelang idul Adha nih). Hingga kini, imunisasi juga belom diberikan karna kami masih menunggu berat bayi kami lebih dari 3 Kg untuk imunisasi pertama. Mungkin sedikit terlambat, namun pertimbangan lain dan beberapa saran merujuk demikian.

Terimakasih kepada semua pihak atas bantuanya dalam kelahiran bayi ke-2 kami...

Tuesday, February 12, 2013

Help MySQL 5

Beberapa kali harus melihat fasilitas help dari MySQL yang di versi 5.x sudah disertakan dalam database mysql, tabel help_*. Akhirnya iseng mbuat program kecil dengan Delphi untuk nampilkan help tersebut, khususnya menggunakan tabel help_category dan help_topic.


Program saya menggunakan komponen DMySQL [silahkan dicari sendiri link di web-nya] dan ukurannya cukup kecil [single file .EXE, portable]. Sudah saya upload di 4shared bagi teman-2 yang ingin menggunakan    program ini. Tentu saja bersifat freeware dan boleh Anda modifikasi sesuai keperluan :)
langsung saja ini linknya

Wednesday, November 28, 2012

Wayang Ki Hadi Sugito (2)

Setelah lama download n lama juga untuk selesai mendengarkan, kelar pula semua judul wayang yang sudah di drive netbook-ku. Buka netboook lagi, colokkan modem, online... gresek wayang kulit khususnya Ki Hadi Sugito dengan meminta bantuan google. Ketemu lah direktori wayang kulit dari lebih banyak dalang, termasuk wayang olek, dan sebagainya....
Langsung saja monggo disinggahi situsnya wayangprabu

Friday, September 21, 2012

Wayang Ki Hadi Sugito

Waktoe ketjil doeloe, kira2 kelas 3 atau 4 SD, saya tinggal dengan simbah di sebelah Barat gunung Mrapi, Muntilan. Sejak itu saya mengenal satu tokoh pewayangan yakni dalang Ki Hadi Sugito (alm).
Kini setelah internet mudah dan murah, banyak rekaman kaset wayang beliau yang sudah di upload oleh beberapa (mungkin) penggemarnya (lebih tepatnya kolektor kasetnya). Dan saya termasuk beruntung karena sekarang dapat memperoleh rekaman kaset wayang Ki Hadi Sugito (dan juga yang lain) dengan mudah, bahkan nyaris gratis -paling tidak jika dibanding dengan harga kaset sekarang -2012 yang mencapai 200ribuan per judul, 8 kaset
Melalui bantuan mbah google, koleksi rekaman kaset wayang ini saya dapat di 4shared.com. Terima kasih juga kepada mas Agustinus Sukandar yang merawat blog yang salah satunya memuat wayang ini.
Link lengkap akan saya update kelak di blog ini, untuk sementara biar sampai disini dulu... he he he

Sunday, April 22, 2012

Bahasa walikan

Beberapa waktu lalu OVJ TransTV live show di Malang, Tokohnya mengucapkan antara lain "kera ngalam" yang berasal dari kata "arek malang" yang dibaca teralik dari belakang.
Di Jogja ada juga bahasa "walikan" seperti ini, misalnya "dagadu" yang berarti "matamu". Tahun 90an ada lagu dari G-Tribe yang syairnya mengandung kata "pabu sacilat", itu juga walikan, sebagaimana kata "dab". Walikan Jogja mengolah konsonan huruf jawa. Silahkan pelajari rumusnya, google dapat membantu mencari refferensi-nya di web.

Saya membuat program kecil untuk membuat atau mengembalikan (terjemah) bahasa walikan tersebut. Ini link-nya.

Sebagai panduan, bahasa walikan tidak dibuat "tekstual" sebagaimana "rumus", namun diubah sedemikian agar lebih enak diucapkan

Tuesday, July 20, 2010

File Attributer : edit attribut file / folder

Beberapa waktu yang lalu kita kenal virus yang menyebabkan suatu file atau bahkan folder "hilang" dari drive kita. Sebenarnya yang dilakukan virus tersebut bukan menghapus atau apapun, namun mengganti atribut file / folder menjadi Hidden dan System. Ketika virus tersebut dimusnahkan dari komputer, maka atribut file / folder harus di-set bukan Hiden dan bukan System. Ini karena Windows tidak akan pernah menampilkan file/folder dengan attribut seperti ini di explorer.
Anda yang sudah terbiasa menggunakan perintah DOS, untuk mengembalikan atribut ini tidaklah sulit yakni dengan perintah attrib. Parameternya yang dikirimkan dapat diperoleh melalui perintah
attrib /?

Saya tidak akan menjelaskan perintah attrib ini, karena saya telah membuat aplikasi kecil bebasis Delphi untuk menampilkan dan merubah attribut file / folder. Menggunakan komponen LsFileExplorer28 yang bisa di unduh di Torry atau di delphipages. Aplikasi yang saya buat saya simpan di 4shared dan bisa diambil di sini.