Di (masyarakat) Jawa, pasaran hari masih cukup diperhitungkan, juga neptu hari. Ketika menanyakan bayi lahir, jawabnya relatif lengkap : Senin Pon... itulah pasaran hari
Lebih lanjut, ketika "menghitung jodoh", neptu hari masih digunakan, jika jumlah neptu hari kedua calon berjumlah kelipatan 3, maka xxxxx [penulis nggak tau, he he he]
Untuk menghitung pasaran (dan neptu) pada tanggal yang telah lampau, penulis membuat sebuah program kecil, lagi-2 pake Delphi-7. ini linknya, dan ini SSnya
Gak perlu panduan buat makainya kan... So silahken donlot ato modifikasi source-nya sesuai keinginan
Ini tentang tenaga IT yang kehabisan pekerjaan (bukan kurang kerjaan). Setelah semua selesai, pasti browsing. Tapi FB dah bosen, chatting gak perlu. Yahhh... nge-blog aja
Monday, February 22, 2016
Saturday, February 20, 2016
Habis Gelap Terbitlah Terang @ Toar Tangkau
Kangen lagu jaman SD : Habis Gelap Terbitlah Terang
Penyanyi Toar Tangkau, pengarang lagu Rudi R, musik Januar Iskak, Purnama Record, 1977
=============================
Diam diam mulai nampak berpijar
Hati yang redup kini bercahaya
Aku telah menerima
Aku telah mendapatkan
Arti kehidupan
Titik air jatuh disudut mata
Tak kuasa daku tuk menahan nya
Oh Tuhan syukur hamba
Yang hanya dalam khayal
Kini telah jadi nyata
Tlah kupeluk tlah kugenggam cita cita
Tlah kubawa kau dengan derita lara
Rasa bangga kuraskan dalam hati
Tak percaya kenyataan nya tiada bermimpi
=============================
ada yg jual kaset itu OL di http://gudangkaset.blogspot.co.id/2011/02/kaset-toar-tangkau-dijual.html harganya 50K, tapi mau nyetelnya gimana, pa lagi konvert ke mp3... gak punya konverternya . . . duh . . .
nunggu aja moga suatu saat ada yg baik hati mau ngonvert itu lagu ke mp3 & nge-share di web . . . he he he
EDIT 7 Desember 2016
Link lagu ini dah tersedia di youtube, alhamdulillah ketemu juga
makasih tak terhingga buat uploader
sedikit ada gangguan di audionya, tapi cukup buat obat kangen
Penyanyi Toar Tangkau, pengarang lagu Rudi R, musik Januar Iskak, Purnama Record, 1977
=============================
Diam diam mulai nampak berpijar
Hati yang redup kini bercahaya
Aku telah menerima
Aku telah mendapatkan
Arti kehidupan
Titik air jatuh disudut mata
Tak kuasa daku tuk menahan nya
Oh Tuhan syukur hamba
Yang hanya dalam khayal
Kini telah jadi nyata
Tlah kupeluk tlah kugenggam cita cita
Tlah kubawa kau dengan derita lara
Rasa bangga kuraskan dalam hati
Tak percaya kenyataan nya tiada bermimpi
=============================
ada yg jual kaset itu OL di http://gudangkaset.blogspot.co.id/2011/02/kaset-toar-tangkau-dijual.html harganya 50K, tapi mau nyetelnya gimana, pa lagi konvert ke mp3... gak punya konverternya . . . duh . . .
nunggu aja moga suatu saat ada yg baik hati mau ngonvert itu lagu ke mp3 & nge-share di web . . . he he he
EDIT 7 Desember 2016
Link lagu ini dah tersedia di youtube, alhamdulillah ketemu juga
makasih tak terhingga buat uploader
sedikit ada gangguan di audionya, tapi cukup buat obat kangen
Tuesday, October 20, 2015
SETING BGP MIKROTIK [kasus ini : ASTINET)
Pertama dapat lembaran info dari provider gini
===============================
Interface di router STIE H*****A
===============================
Interface di router STIE H*****A
Interface2:
DOMESTIK : 192.168.91.234
255.255.255.252
Interface3 :
GLOBAL : 192.168.91.230 255.255.255.252
Interface4 :
LAN : 118.97.15.56 /29
AS number
telkom : 17974
AS number pelanggan : 64646
PE2-D4-KBU-INET#sh
run int Gi1/3.2127
Building
configuration...
Current
configuration : 396 bytes
!
interface
GigabitEthernet1/3.2127
description ASTINET (GLOB)
STEI H*****A Eksekutif Desa Alamat, CID 4002002127 SID
300100194-0009489981
bandwidth 1024
encapsulation dot1Q 2127
ip vrf forwarding Astinet_Global
ip address 192.168.91.229
255.255.255.252
no cdp enable
service-policy input rate_limit_1M
service-policy output rate_limit_1M
end
PE2-D4-KBU-INET#sh
run int Gi1/3.2128
Building
configuration...
Current
configuration : 397 bytes
!
interface
GigabitEthernet1/3.2128
description ASTINET (DOM)
STEI H*****A Eksekutif Desa Alamat,Yogya CID 4002002128 SID
300100194-0009489981
bandwidth 2048
encapsulation dot1Q 2128
ip vrf forwarding Astinet_Domestik
ip address 192.168.91.233
255.255.255.252
no cdp enable
service-policy input rate_limit_2M
service-policy output rate_limit_2M
end
#liat AS
number astinet BB
PPE2-D4-KBU-INET#sh running-config vrf Astinet_Domestik
Building configuration...
neighbor 192.168.91.234 remote-as 64646
neighbor 192.168.91.234 prefix-list
FROM_AST_BB_300100194-0009489981 in
#liat ip
public astinet BB
PE2-D4-KBU-INET#sh
running-config | i AST_BB_300100194-0009489981
neighbor 192.168.91.230 prefix-list
FROM_AST_BB_300100194-0009489981 in
neighbor 192.168.91.234 prefix-list
FROM_AST_BB_300100194-0009489981 in
ip prefix-list
FROM_AST_BB_300100194-0009489981 seq 5 permit 118.97.15.56/29
ip prefix-list
FROM_AST_BB_300100194-0009489981 seq 20 deny 0.0.0.0/0 le 32
Lanjut dengan seting mikrotik
===============================
[Interface] AS
ganti : 64646
Tambah Peer
[domestik] Addres 192.168.91.233, AS 17974
Tambah Peer
[global] Addres 192.168.91.229, AS 17974
Tambah Networks
IP 118.97.15.56 /29
Interface2 :
DOMESTIK : 192.168.91.234
255.255.255.252
Interface3 :
GLOBAL : 192.168.91.230 255.255.255.252
Interface4 :
LAN : 118.97.15.57 /29
DNS ASTINET
203.130.208.18
202.134.1.10
NAT
Tinggal setting
komputer [public]
IPV4 ke
118.97.15.58(-62), gateway 118.97.15.57
Saturday, August 8, 2015
Struk SPBU
Belom lama, saudara sepupu kerepotan ketika harus membuat SPJ anggaran. Kuitansi pembelian bensin/pertamax/solar [BBM] raib gak tau entah kemana. Saat dead-line semakin dekat maka solusi "aneh" ditempuh yakni "mencetak struk" sendiri. . . he he he :P
Setelah mencoba beberapa cara, akhirnya sodara tersebut minta juga bantuan ke penulis untuk ikut "terlibat" dalam masalah yang cukup bikin mumet tersebut. Mengingat selama ini penulis banyak berkutat dengan bahasa Delp*i 7 maka ya akhirnya buat juga program untuk mencetak struk SPBU yang nota-bene cap agak abal-abal ini.
Pertama ke images.google untuk nyari "gambar" struk SPBU, lanjut ke nyari huruf [font], dan mulai beraksi. Langsung aja hasilnya ada di 4shared dan freeware lah, source code juga disertakan. Silahkan di modifikasi sesuai kebutuhan.
Berikut ini tampilan rilis program terakhir. . . . .
loading...
Komponen TRKEdit dan TRLKEdit ada fi file RKEdit.pas; silahkan mau diintal [di delphi7] atau di-create saat run-time. 2 font juga musti di-copy-kan ke folder windows\font ya . . .
[update 26 juli 2017] mmm... banyak yg gagal ngedit/mbuka source di form reportnya... itu karna saya pake QuickReport versi 5.xx... Bawaan D7 itu QuickReport versi 3.xx, jadi musti apgred QR nye ke v5.xx ato di-ignore aja, trus sesuaikan ke QR 3.xx
kayaknya perlu disebutin nih : penulis gak bertanggung-jawab atas penyalah-gunaan program ini lho ya . . .
[update 2 Maret 2016]
Setelah mbaca beberapa komentar, program saya coba perbaiki... ada menu Opsi untuk
1. Format tanggal
2. Ubah warna
Tentang warna, sebaiknya pilih warna hitam namun dicetak menggunakan printer kasir [seperti di swalayan itu] hasilnya tentu lebih homogen
[update link 2 Juli 2017 via mediafire]
Saturday, April 4, 2015
Waktu Shalat [Delphi 7]
Software untuk mencari waktu shalat sudah banyak, termasuk yang dirilis Depag RI (winhisab). Pernah googling buat nyari source-code menghitung waktu shalat untuk di"tempel" di aplikasi yang selama ini saya buat, ternyata yang ditulis pake Delphi gak ketemu. Trus googling algotima hitungan waktu shalat dan dari sekian banyak algoritma (VSOP87 dan ELP2000 (pergerakan bulan), Meous) menurut saya yang paling praktis itu seperti yang ditulis di googlecode ini. Mengapa praktis? algoritma yang lain masih belom sukses ketika saya tulis di Delphi (mungkin kurang teliti di penulisan tanda kurung di persamaan matematisnya :) ). Dan yang 1 ini sudah pantas buat saya "pamer"kan kepada pembaca (yang mau aja lho).
Buat yang ini menggunakan code saya ini, silahkan ... tentunya dengan tanggung-jawab sepenuhnya ada pada anda sendiri, iya to. . . Kan gak mungkin saya bisa nanggung kalo ada kerugian yang mungkin terjadi dari s/w buatan saya ini to ya . . . he he he
to-do : saya pengin melengkapi dengan semua algoritma untuk pembandingan hasil,jadi tunggu release yang lebih lanjutnya (semoga gak berhenti disini, amin)
ini potongan code-nya
<pre><code>
uses math;
var h,tz,sh :integer;
B,L,gd,gn:real;
subuh,terbit,zuhur,ashar,maghrib,isya:real;
procedure hitung(tgl:TDateTime);
var D,T,R,beta,Z,U,Vd,Vn,W : extended;
j : integer;
function YearOf(const AValue: TDateTime): Word;
var LMonth, LDay: Word;
begin
DecodeDate(AValue, Result, LMonth, LDay);
end;
begin
j :=Trunc(tgl-EncodeDate(YearOf(tgl),1,1)); //= DayOfTheYear(tgl);
beta:=2*pi*J/365;
D :=(180/pi)*(0.006918-(0.399912*cos(beta))+(0.070257*sin(beta))-(0.006758*cos(2*beta))+(0.000907*sin(2*beta))-(0.002697*cos(3*beta))+(0.001480*sin(3*beta)));
T :=229.18*(0.000075+(0.001868*cos(beta))-(0.032077*sin(beta))-(0.014615*cos(2*beta))-(0.040849*sin(2*beta)));
R :=15*TZ;
Z :=12+((R-L)/15)-(T/60);
U :=(180/(15*pi))*arccos((sin((-0.8333-0.0347*sign(H)*sqrt(abs(H)))*(pi/180))-sin(D*(pi/180))*sin(B*(pi/180)))/(cos(D*(pi/180))*cos(B*(pi/180))));
Vd:=(180/(15*pi))*arccos((-sin(Gd*(pi/180))-sin(D*(pi/180))*sin(B*(pi/180)))/(cos(D*(pi/180))*cos(B*(pi/180))));
Vn:=(180/(15*pi))*arccos((-sin(Gn*(pi/180))-sin(D*(pi/180))*sin(B*(pi/180)))/(cos(D*(pi/180))*cos(B*(pi/180))));
W :=(180/(15*pi))*arccos((sin(arctan(1/(Sh+tan(abs(B-D)*pi/180))))-sin(D*pi/180)*sin(B*pi/180))/(cos(D*pi/180)*cos(B*pi/180)));
subuh :=Z-Vd;
terbit :=Z-U;
zuhur :=Z;
ashar :=Z+W;
maghrib:=Z+U;
isya :=Z+Vn;
end;
var h,tz,sh :integer;
B,L,gd,gn:real;
subuh,terbit,zuhur,ashar,maghrib,isya:real;
procedure hitung(tgl:TDateTime);
var D,T,R,beta,Z,U,Vd,Vn,W : extended;
j : integer;
function YearOf(const AValue: TDateTime): Word;
var LMonth, LDay: Word;
begin
DecodeDate(AValue, Result, LMonth, LDay);
end;
begin
j :=Trunc(tgl-EncodeDate(YearOf(tgl),1,1)); //= DayOfTheYear(tgl);
beta:=2*pi*J/365;
D :=(180/pi)*(0.006918-(0.399912*cos(beta))+(0.070257*sin(beta))-(0.006758*cos(2*beta))+(0.000907*sin(2*beta))-(0.002697*cos(3*beta))+(0.001480*sin(3*beta)));
T :=229.18*(0.000075+(0.001868*cos(beta))-(0.032077*sin(beta))-(0.014615*cos(2*beta))-(0.040849*sin(2*beta)));
R :=15*TZ;
Z :=12+((R-L)/15)-(T/60);
U :=(180/(15*pi))*arccos((sin((-0.8333-0.0347*sign(H)*sqrt(abs(H)))*(pi/180))-sin(D*(pi/180))*sin(B*(pi/180)))/(cos(D*(pi/180))*cos(B*(pi/180))));
Vd:=(180/(15*pi))*arccos((-sin(Gd*(pi/180))-sin(D*(pi/180))*sin(B*(pi/180)))/(cos(D*(pi/180))*cos(B*(pi/180))));
Vn:=(180/(15*pi))*arccos((-sin(Gn*(pi/180))-sin(D*(pi/180))*sin(B*(pi/180)))/(cos(D*(pi/180))*cos(B*(pi/180))));
W :=(180/(15*pi))*arccos((sin(arctan(1/(Sh+tan(abs(B-D)*pi/180))))-sin(D*pi/180)*sin(B*pi/180))/(cos(D*pi/180)*cos(B*pi/180)));
subuh :=Z-Vd;
terbit :=Z-U;
zuhur :=Z;
ashar :=Z+W;
maghrib:=Z+U;
isya :=Z+Vn;
end;
</code></pre>
Sunday, September 21, 2014
Placenta Previa
Tulisan ini tidak akan membahas apa itu placenta previa, namun kelahiran anak ke-2 kami yang caessar karna placenta previa ini
---
Dua anak cukup... laki-laki perempuan sama saja... itulah jargon Keluarga Berencana.
---
Dua anak cukup... laki-laki perempuan sama saja... itulah jargon Keluarga Berencana.
Setelah punya
gubug sendiri untuk menetap, bahkan di usia anak pertama yang sudah 8 tahun,
maka keinginan untuk memiliki anak kedua menguat. Istri-pun melepas kontrasepsi
IUD yang sudah 8 tahun ngendon di badannya dan 3 bulan kemudian hamilah anak kedua.
Semua berjalan
seperti biasa hingga usia kehamilan 33 minggu. Senin pagi 25 Agustus 2014
bercak darah segar ditemukan istri ketika bangun tidur (nge-flek). Hari itu
juga, mbolos kerja dan periksa ke RS (swasta) terdekat. Hasilnya, dokter bilang
Plcanta Previa, kondisi dimana ari-ari (placenta) menutup jalan keluar
bayi. Bayi tidak mungkin dilahirkan dengan jalan normal, dan harus operasi
sesar (caesar), sesegera mungkin karena janin sudah seberat 3,05 kg (ala USG).
Untuk memperkuat
argumentasi, dicari 2nd oppinion dari rumah sakit lain, dan hasilnya sama.
Hanya rekomendasinya sedikit berbeda: tunggu selama mungkin mendekati HPL, atau
keluar flek lagi. Jika flek darah muncul, maka sesegera mungkin dioperasi
sesar.
Ternyata, tepat
seminggu sejak flek pertama yakni Senin 1 September 2014, bukan hanya flek
darah yang ditemukan istri, namun dari pagi hingga siang darah segar tidak mau
berhenti. Setelah muter-muter mencari rujukan dari Puskesmas (yang ternyata
tidak digunakan L), senin sore jam 17.00 ke rumah sakit
terdekat untuk periksa lagi. Hasilnya: janin sudah 3,1 kg dan harus sesar,
esok hari (Selasa, 2 September 2014) selepas waktu Ashar.
Selanjutnya,
selasa 2 September, jam 10.30an berangkat ke RS tersebut, setelah mendaftar dan
sebagainya, menunggu di kamar bangsal. Datang pemberitahuan bahwa operasi akan
dilaksanakan jam 22.00an malam itu, karena menunggu kesiapan dokter “lain”
(anestesi).
Jam 22.10, istri
masuk ke ruang operasi, dan jam 22.38 terdengar tangis bayi dari ruang
tersebut... dari luar kami bersyukur... Alhamdulillaahhh . . . Pintu ruang
operasi dibuka, dan salah satu perawat berlari kesana kesini mengambil beberapa
peralatan medis, yang dalam hati kami menilai : kok kurang persiapan ya . . . .
Jam 23.00an istri
keluar dari ruang operasi dan kembali ke bangsal, namun adek bayi masih
menunggu di dalam ruang operasi... Tidak dapat menunggu adek bayi keluar dari
ruang operasi karena sudah sedemikian ngantuk, akhirnya tertidur... dan
keesokan harinya (Rabu 3 September 2014) bayi mungkil kami sudah berada di
ruang inkubator bayi. Informasi dari perawat :
1.
berat bayi 2,2 kg, panjang 43 cm (BBLR, padahal USG terakhir menyebutkan
3,1 kg)
2.
nafas cekung
hal kedua diatas
(nafas cekung) menyebabkan bayi harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih mampu,
dipilihlah RSUD Sleman.
Jam 11.45 sampai
di UGD RSUD Sleman, dan harus mendaftar ke bagian UGD. Kemudian menunggu bayi
untuk ditangani lebih lanjut. Dari UGD, bayi di bawa ke bangsal bayi untuk
mendapat penanganan khusus. Beruntung, tak lama kemudian ada dokter spesialis
yang berkeliling memeriksa. Beberapa dokter muda dari UGM mengerumuni dokter
spesialis dan menyampaikan kondisi bayi kami. Hhmmmm.... hanya dari laporan
tersebut, tanpa melihat bayi, sang dokter menuliskan apa yang harus dilakukan,
bahkan perawat nampak seperti sudah hafal dan menambahkan apa lagi yang kurang
dari dokter, dan di iyakan oleh dokter tersebut... Berarti kondisi bayi seperti
ini sudah sering ditemui hingga semua hafal dan tahu apa yang harus dilakukan.
Setelah dokter keluar, barulah ada perawat yang menemui dan menyampaikan hal
apa saja yang akan dilakukan beserta resiko yang mungkin muncul... karenanya
persetujuan dari keluarga pasin diperlukan dalam bentuk tanda tangan. No
problem. Semua langsung di tanda tangani saja....
Jam 12.15 semua
selesai, masih ada waktu untuk ke kantor Jamkesda Sleman (sekitar 10 km) yang
biasanya memakan waktu 30 menit karna jam macet. Mampir dahulu ke studio poto
untuk mencetak poto dan foto-copy beberapa berkas, Jam 12.45 sampai di kantor
Jamkesda Sleman. Setelah semua selesai, kembali lagi ke RSUD dan jam 13.20 ke
kantor Jamkesda di RSUD untuk mendapat persetujuan. Tidak perlu antri lama
(dibanding asuransi kesehatan milik pemerintah lain) persetujuan didapat dan
berkas disampaikan ke bangsal bayi.
Capek, bingung,
lapar. Mencari Masjid, sholat Duhur, dan kembali bingung... Di lantai teras
bangsal, langsung ndlosor saja dan tidur hingga terbangunkan 1 jam kemudian, oleh
aktifitas cleaning-service RSUD mulai bersh-2 sore hari lagi. Terbangun,
menuju ruang perawat bangsal dan tanya beberapa hal... jawabnya : perkembangan
baru ada di hari ke-4 setelah perawatan, dan bayi harus ada yang nenunggu...
Malam hari, setelah SMS-an dengan istri di RS lain, hanya bisa tidur di kursi
tunggu teras bangsal yang dingin, hingga Subuh.
Kamis, 4
September 2014, pagi hingga sore tidak ada kegiatan, kecuali melihat bayi di
inkubator pada jam 10.00 s/d jam 12.00, dan tentu saja rasa harap-2 cemas. Juga
jam bezoek sore (jam 16.00 s/d 18.00). Namun setelah sholat Maghrib, perawat meminta
untuk menyiapkan ASI dan mengatakan bahwa kult bayi pucat, dan Hb (hemoglobin)
rendah, 9,6 dari 15. Bagi dewasa, Hb bisa ditambah dengan minum juice jambu,
namun untuk bayi (usia 2 hari) hanya bisa lewat transfusi, dan hanya dari darah
segar (bukan darah yang didonor-kan kemarin). Beruntung golongan darah-nya sama
dengan Bapak-nya dan dokter menunda transfusi esok harinya
karena dianggap bukan mendesak dan perlu pengawasan “lebih”.
Jum’at, 5
September 2014 setelah mendapat pengantar dari bangsal bayi, menunggu di Bank
Darah Laboratorium RSUD, dan petugas membuka pintu di jam 6.30. Ternyata, pengambilan
darah hanya bisa dilakukan di PMI... hhmmmm.... Berangkat lah ke PMI dengan harapan
bisa donor (setelah kurang tidur)... Alhamdulillaahh, Hb cukup dan darah bisa
di ambil, dan “proses” selanjutnya memakan waktu 3 jam karna proses manual
(kalau proses otomatis darah hanya menjadi 1 bag, padahal diinginkan 3 bag).
Daripada menunggu, mendingan ke RS tempat istri di rawat dan sekaligus meminta
ASI. Sampai di RS, istri dinyatakan sudah boleh pulang. Tentu senang, namun
bagaimana pulangnya? Akhirnya harus megambil mobil ke rumah saudara, sementara
istri menunggu di RS sambil memeras ASI, dan saudara lain yang menungu istri
mengurus administrasi kepulangan. Biayanya? Total Rp. 6.627.000,- namun semua
gratis dengan jaminan Jamkesda. Selesai menjemput dan memulangkan istri, sudah
hampir jam 11.00 padahal darah di PMI dijanjikan jam 11.00. akhirnya langsung
menghantar mobil pulang sekaligus mengambil motor dan kembali ke PMI. Jam 11.30
sampai di PMI, tanda tangan pengambilan darah dengan nota Rp. 1.080.000 untuk 3
bag... hufff . . . beruntung dapat di”tebus” lagi dengan lembaran merah/jingga
dari Jamkesda. Langsung ke RSUD, menitipkan 2 bag darah ke Bank Darah di
Laboratorium RSUD, dan membawa 1 bag sisanya ke bangsal. Karena semua sudah
cukup, istirahat sejenak dan menunggu sholat Jum’at. Selesai Jum’at, kembali
harus mengambil ASI untuk jam 19.00 malam nanti . . . Pulang
kerumah, mandi, makan, dan lain-2. Keluarga mertua datang selepas Magrib, dan
sejenak kemudian tetangga kiri-kanan pada “ngaruhke” (kebiasaan di desa, kalo
ada yang pulang dari RS, tetangga selalu pada berkunjung manakala tidak sempat
berkunjung ke RS). Setelah ASI siap, jam 19.00an langsung ke RSUD. Perawat
mengatakan ASI cukup hingga jam 05.00 pagi!!! . . . langsung SMS istri untuk
menyiapkan ASI jam tersebut.
Sabtu 6 September
2014, selepas Subuh, langsung pulang dan mengambil ASI. Dirumah tak lupa
sarapan seadanya. Kembali ke RSUD, perawat mengatakan ASI
cukup hingga jam 11.00.... yyaa.. SMS istri lagi untuk nyiapkan ASI jam
tersebut... balasan istri, OK ASI akan dihantar ke RSUD oleh adik-nya. Lumayan
lega lah... jam 11.15 ASI datang, dan perawat mengatakan cukup sampai jam
17.00... SMS istri lagi... balasannya, sore itu akan ke RSUD bersama
keluarga... belom sampai jam 17.00, perawat sudah meminta ASI (sudah habis, dan
bayi kami menangis) saya jawab bahwa keluarga sedang dalam perjalanan ke RS,
perawat malah menyarankan langsung “netek”i bayi aja... hhmm... seneng banget
denger ini...
Jam 17.15an,
istri (dan keluarga) sampai di RSUD dan istri langsung ke bangsal dan mulai
menyusui bayi kami untuk pertama kali. Cukup lama, 30 menit kemudian azan
Magrib dan belom selesai menyusui. Selesai sholat Magrib, istri sudah diluar
bangsal dan menunggu sejenak untuk memeras ASI untuk malam tersebut. ASI
tersedia, namun sebelum pulang, kembali istri menyusui bayi kami. Perawat
mengijinkan pulang namun harus menyediakan ASI untuk jam 07.00.pagi.... (istri
belom berani tinggal di RSUD karna luka operasi sessar belom membaik dan belom
ada ruang tunggu untuk tidur ibu menyusui).
Minggu 7
September 2014, selepas Subuh kembali pulang mengambil ASI. Sampai di rumah,
mandi, sarapan, dan siap-siap. Ternyata istri memilih untuk ikut ke RSUD dan
menyusui bayi kami. Jam 08.00 sampai di RSUD dan langsung ke bangsal. Tentu
sudah di tunggu perawat untuk langsung menyusui. Selesai menyusui, menyusun rencana
selanjutnya: istri siap tinggal di RSUD dengan ditemani (istri belom bisa
berjalan dengan normal). Siang hari, istri saya ajak jalan-jalan orientasi
sekitar RSUD. Dan sore hari, memeras ASI untuk persiapan pulang mengambil
peralatan menginap lain. Setelah cukup, menunggu waktu menyusui dan kemudian
pulang. Namun kami harus kembali jam 01.00 untuk menyusui bayi. Sesampai di
rumah, saya coba beristirahat, namun tidak bisa. Setelah jam 23.00, kami
bersiap kembali ke RSUD dan sampai di RSUD jam 01.00... ternyata ASI sudah
habis sejak jam 21.00. Selesai menyusui, istri harus tidur di
teras bangsal dengan sleeping bag (yang selama ini saya pakai). Hari
itu, dari pagi hingga sore rasanya saya dapat cukup tenang.
Senin 8 September
2014, setelah menghantar istri membeli sarapan dan menyiapkan kebutuhan lain
(terutama air mineral) saya pamit pulang untuk mencoba ke tempat kerja. Jam
10.00 sampai di tempat kerja, dan langsung tidur di dapur. Bangun di waktu Zuhur, ternyata sudah ada 2 SMS
istri yang masuk. Ke kantor dulu menyelsaikan sedikit pekerjaan yang
selama ini tidak ada yang bisa menghandle, selesai dan pulang. Sampai di rumah, menyiapkan pesanan istri, dan
berangkatlah ke RSUD. Selanjutnya, saya hanya mengobrol dengan sesama penunggu
pasien sementara istri yang mengurus bayi kami.
Malam itu, istri sudah mendapat tempat tidur di dalam ruang yang disesiakan
bagi ibu yang menyusui.
Selasa, 9
September 2014, bagi saya semua berjalan seperti biasa. Setelah mendapat hasil
Laboratorium, infus bayi di lepas dan makanan hanya mengandalkan ASI. Ini tentu
berita bagus bagi perkembangan bayi. Namun hasil Lab yang lain, bilirubin cukup
tinggi, sehingga bayi harus di sinar Ultra Violet. Ini dilakukan 2 x 12 jam.
Menunggu persetujuan dokter, penyinaran dilakukan hari Selasa (jam 11.00 s/d
23.00) dan Rabu (jam 07.00 s/d 19.00). Selama penyinaran, ASI diberikan lewat pipet
sehingga kembali harus di peras. Sekali pemberian ASI saat ini adalah 30cc
sehingga cukup kewalahan juga saat itu karna ASI belom begitu lancar, dan
pemberian ASI maksimal 2 jam, atau kalau bayi menangis (sebelum 2 jam).
Kamis 11
September 2014, semua sudah dilalui. Namun hari itu tidak ada informasi baru
karena tidak ada kunjungan dokter. Hanya informasi kalau berat bayi turun
menjadi 1,9 Kg. Perawat mengatakan kalau ingin pulang, berat bayi harus pada
angka minimal bayi lahir (2,5 Kg) atau 3 hari berturut-turut tidak turun.
Jum’at, 12
September 2014 kembali tidak ada kunjungan dokter. Ternyata dokter mengikuti
pelatihan 3 hari di RSUP dr. Sardjito hingga Sabtu. Saya pamit pulang karna
istri siap menunggu. Sampai dirumah, menjemput anak sulung dari sekolah. Ta
lama kemudian ada SMS dari istri: dokter datang dan sudah boleh pulang. Hura.... tentu gembira.... SMS balasan berbunyi:
OK, habis Jum’at kita jemput. Selesai sholat Jum’at langsung bersiap menjemput.
Sebelum berangkat, di kamar disiapkan lampu belajar dengan bohlam 5 watt untuk
pemanas. Sesampai di RSUD, langsung fotocopy ini-itu, ngurus ke bagian
sana-sini, dan selesailah semua. Berpamitan kepada perawat, “tetangga” tempat
menginap istri, dan pulang. Sampai di rumah jam 14.30, kondisi bayi nampak
begitu lemah, tanpa tenaga.
Sabtu, 13
September 2014 selepas Ashar, untuk pertama kali saya lihat bayi kecil kami
menggelengkan kepala ke kini-kanan untuk mencari ASI. Bagi saya, ini sudah
merupakan perkembangan karna nampak bayi kecil kami sekarang sudah cukup
memilik tenaga untuk hal tersebut.
Senin 15
September 2014, kontrol ke RSUD dan dokter menyatakan bayi sehat,
Alhamdulillaah. Pesannya, jangan kena angin, jangan boleh di sentuh “sembarang”
tangan. Timbangan bayi menunjukkan angka 2,2 Kg. Wow juga tentunya ...
Kamis 18
September 2014, pertama kalinya bayi ditimbang di Posyandu, dan menunjukkan
angka 2,7 Kg.
Selanjutnya,
hingga kini Alhamdulillaah semua berjalan dengan cukup baik. Perkembangan bayi
dan kepulihan istri cukup bagus. Namun mertua menyarankan untuk tidak
terburu-buru mengadakan aqiqah hingga bayi bener-bener sehat, selain juga harga
kambing memang sedang mahal (menjelang idul Adha nih). Hingga kini, imunisasi
juga belom diberikan karna kami masih menunggu berat bayi kami lebih dari 3 Kg
untuk imunisasi pertama. Mungkin sedikit terlambat, namun pertimbangan lain dan
beberapa saran merujuk demikian.
Terimakasih kepada semua
pihak atas bantuanya dalam kelahiran bayi ke-2 kami...
Tuesday, February 12, 2013
Help MySQL 5
Beberapa kali harus melihat fasilitas help dari MySQL yang di versi 5.x sudah disertakan dalam database mysql, tabel help_*. Akhirnya iseng mbuat program kecil dengan Delphi untuk nampilkan help tersebut, khususnya menggunakan tabel help_category dan help_topic.
Program saya menggunakan komponen DMySQL [silahkan dicari sendiri link di web-nya] dan ukurannya cukup kecil [single file .EXE, portable]. Sudah saya upload di 4shared bagi teman-2 yang ingin menggunakan program ini. Tentu saja bersifat freeware dan boleh Anda modifikasi sesuai keperluan :)
langsung saja ini linknya
Subscribe to:
Posts (Atom)










